Senin, 12 Desember 2011

CERPEN

Cerpen Mengenai Kisah Hidup Diri Sendiri Dan Percintaan
Oleh :
HARYANI DINA (A1D1 08 018)


1. HIDUP YANG  TAK TERLUPAKAN

Subuh itu ketika menandakan panggilan dari Allah yaitu dengan dibunyikannya adzan dari mesjid, aku cepat-cepat bangun. Setelah sadar, aku lansung mengambil air wudhu dengan tujuan untuk menunaikan shalat subuh. Aku lebih memilih shalat dalam kamar dibanding dengan shalat di mesjid, padahal letak kamarku dengan mesjid sangat dekat. Aku memilih demikian karena setiap subuh bagi kaum perempuan sangat jarang shalat di mesjid. Akupun beranggapan bahwa shalat di kamar dan di mesjid sama saja, tergantung niatnya yang dikembalikan pada diri masing-masing. Selesai menunaikan shalat subuh, aku sedikit membaca buku dengan mengulang pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh dosen dari kampus. Kebiasaan ini sangat rutin aku lakukan karena tujuan pada dasarnya adalah aku ingin menjadi orang pintar dan berguna dimasa yang akan datang. Aku tidak ingin ketinggalan dengan teman-teman yang sudah banyak pengetahuannya. Untuk itu, aku selalu meluangkan waktu untuk belajar. Ketika sudah pagi, aku langsung mandi kemudian sarapan pagi dan berpakaian rapi serta bergegas untuk pergi ke kampus. Aku biasa pergi di kampus jam 7.40. Setiap pergi di kampus aku selalu jalan kaki. Aku memilih jalan kaki karena letak kampus dengan rumah kosku sangat dekat. Selain itu, aku lebih senang kalau ada teman-teman yang menemani pergi di kampus, apalagi teman-teman yang masih dalam satu ruangan.
Ketika aku dan teman-teman sudah berada di kampus, kami lansung menuju di ruangan belajar. Walaupun sudah berada di ruangan denga tujuan untuk menerima pelajaran, kamipun selalu menunggu kedatangan dosen dengan sabar. Aku tidak pernah mengeluh misalnya ada informasi dari ketua tingkat kalau ada dosen yang berhalangan masuk. Akupun sadar bahwa waktu kosong seperti itu lebih baik diisi dengan kegiatan lain seperti belajar sendiri. Begitupun dengan teman-teman yang memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang positif.
Aku dan teman-teman saling memperhatikan satu sama lain. Misalnya kalau ada teman yang mendapat masalah, kami saling membantu. Hal-hal apa saj a yang terjadi pada diri teman-teman termasuk aku, kami selalu kompak. Aku juga sering bercanda ria dengan teman-teman kalau sudah suntuk dalam ruangan. Meskipun berbeda suku dengan teman-teman, tetapi aku selalu menghargai dan menganggap bahwa mereka adalah semua keluarga. Aku orang sabar, meskipun ada hal-hal atau perkataan dari teman dekat yang mengkata-katai dengan bahasa-bahasa kasar. Aku selalu menghadapi masalah itu dengan hati yang bersih tanpa ada rasa dendam. Kalau ada pelajaran yang tidak dimengerti, aku selalu bertanya pada teman. Hal-hal yang tidak dimengerti seperti itulah yang membuat aku mengingat kembali kegiatan yang pernah dilalui dimasa kecil.
Dimasa kecil kata ayah, aku sering menanyakan pekerjaan-pekerjaan yang ayah kerjakan. Untuk itu ayah beranggapan, bahwa diantara kami lima bersaudara, maka akulah yang rajin bertanya. Aku tidak mau ketinggalan dan selalu berusaha mencari tahu..
Aku dibesarkan dalam keluarga yang harmonis. Aku merupaka anak pertama dari lima bersaudara. Kata ayah, aku adalah titik tumpuan dari semua adik-adikku. Ayah selalu mendidik aku dengan pendidikan yang berguna dan selalu untuk taat pada orang tua. Walaupun ayahku sudah tua, tetapi ia tidak menonjolkan kelemahan-kelemahannya di depan kami. Ayah telah bekerja sebagai seorang guru dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Disetiap harinya ayahku selalu pergi di sekolah untuk menjalankan rutinitas yang sudah diamanahkan yaitu sebagai tenaga pendidik. Begitupun dengan ibu yang selalu sabar dalam membesarkan aku termasuk adik-adikku.
Setelah berumur 6 tahun, aku mulai dimasukkan ke sekolah yaitu TK Dharmawanita. Pertama masuk TK, aku selalu diantar dan dijemput ayah. TK dan tempat ayah mengajar sagat dekat sekitar 50 meter. Untuk itulah aku selalu pergi bersama dengan ayah. Selesai di TK selama satu tahun, aku lanjut di SD selama 6 tahun. Selama 6 tahun aku tidak pernah tinggal kelas. Aku selalu melewati masa-masa itu dengan mulus tanpa ada tantangan apapun. Aku selalu masuk lima besar dengan mendapat peringkat ke-3 atau ke-4. Hal itulah yang selalu membuat bangga ayah pada diri aku.
Setelah tamat SD, aku lanjut di SMP selama 3 tahun. Selama 3 tahun itu banyak kesan berupa hal-hal menarik yang pernah aku lalui. Seperti ketika sudah naik di kels 2 SMP, aku telah mewakili sekolah dan mendapat peringkat ke-3 dengan mengikut cerdas-cermat se-Kabupaten Muna. Saat itu aku diamanahkan mengambil mata pelajaran biologi. Kesan seperti itulah yang membuat aku bangga pada diri sendiri. Setelah tamat, aku lanjut lagi di SMA selama 3 tahun. Di SMA tersebutlah aku mulai mengenal masa remajaku. Ketika mulai masuk kelas 1 SMA, aku memilih untuk masuk di kelas IPA. Kebetulan sekolahku hanya menetapkan dua penjurusan yaitu kelas IPA dan kelas IPS. SMA dimana aku menuntut ilmu pada saat itu merupakan SMA yang pertama dibangun di kampung yaitu letaknya di Kabupaten Muna di Kecamatan Lohia. SMA tersebut dinamakan SMA 1 Lohia. Ketika aku sudah naik kelas 3, pihak sekolah mulai memberi tahu bahwa brosur yang menawarkan untuk menerima mahasiswa yang ingin kuliah mulai berdatangan. Mendengar semua itu, akupun mulai berunding dengan orang tua untuk memilih kuliah dengan menempuh jalur bebas test. Keputusan tersebut diterima dan didukung oleh kedua orang tua.
Setelah tamat ternyata aku lulus dan langsung memilih untuk kuliah di Kendari. Aku meninggalkan kampong dan mulai belajar meninggalkan orang tua. Pertama aku berangkat rasanya sangat sedih karena sudah meninggalkan sanak saudara. Tetapi, kata ayah dan ibu aku tidak boleh cengeng karena aku sudah dewasa dan sudah mau masuk kuliah. Aku lulus di Fakultas FKIP yaitu di Jurusan Bahasa Indonesia. Pertama masuk, aku merasa kesunyian karena tidak ada teman-teman yang saya kenal dalam satu ruangan belajar. Tetapi selama beberapa bulan pembelajaran berlangsung, maka mulailah ada teman-teman yang saya kenal. Setelah kuliah, aku memilih tinggal di rumah kost. Dari situlah hingga sampai sekarang aku belajar hidup mandiri dan mulai mengenal kehidupan kampus yang sesungguhnya dari hal yang positif maupun kehal yang negatif.    



2. KISAH PERCINTAAN
ANTARA DUA INSAN ANAK MANUSIA

Cinta dapat diibaratkan seperti kupu-kupu. Makin kita kejar, maka ia makin menghindar. Tetapi bila kita biarkan ia terbang, ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya. Cinta bisa membahagiakanku tetapi ia sering pula menyakiti, tetapi cinta itu hanya istimewa apabila aku berikan pada seseorang yang layak menerima. Aku sudah memeilih dia sebagai pilihan yang paling terbaik.
Cinta adalah sebuah kisah, yaitu kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah inilah yang merefleksikan kepridadian dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Kisah pada setiap orang berasal dari terik khusus yang sudah dikenalnya, baik dari orang tua, cerita teman maupun pengalaman-pengalaman lain. Kisah ini biasanya memepengaruhi kita, tentang bagaimana kita bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan termasuk pada apa yang aku alami saat ini.
Di zaman yang luar biasa ini nampaknya telah mempercepat proses remajaku dalam mengenal cinta. Diusiaku yang sudah dewasa ini yaitu diusia 20 tahun, aku sudah mulai merasakan bahwa ada perasaan lain yang timbul dalam diriku terhadap si dia yang nyata-nyatanya telah berbeda jenis kelamin dengan aku. Dia memperkenalkan namanya pada aku sebagai Ifan dan aku sebagai Ain. Aku betul-betul mencintai Ifan karena aku sudah mengenalnya sejak lama. Walaupun aku berbeda usia selama 2 tahun dengan Ifan, tetapi aku tidak mempermasalahkannya dan malah aku mempercayainya bahwa usia tidak menjadi masalah. Aku selalu mencintai dia dan sekaligus menganggap sebagai kakakku yang akan selalu melindungiku.
Setelah Ifan menampakkan cinta padaku, aku mulai curiga setelah membaca gerak-geriknya bahwa ia betul-betul  suka pada diri aku. Akupun demikian dan tidak menolak dia. Setelah aku dan Ifan membuktikan cinta kami dengan mengatakan jujur satu sama lain, ternyata diantara kami berdua telah tumbuh suatu kepercayaan dan perasaan yang didasari dengan rasa sayang dan menyayangi. Ketika ada komitmen  antara aku dan Ifan, kami berjanji bahwa setiap ada masalah tidak harus disembunyikan satu sama lain, tetapi harus mencari jalan keluarnya secara bersama-sama. Hubungan percintaan antara aku dan Ifan telah didukung oleh kedua orang tua belah pihak. Orang tua Ifan telah memberikan kepercayaan  kepada aku dan menetapkan  bahwa akulah yang akan menemani Ifan untuk  selamanya sampai mengarah  kejenjang pernikahan. Orang tua aku juga telah menetapkan pilihan pada Ifan untuk menjadi teman pendamping yang akan selalu mengisi waktuku. Selama aku mengenal Ifan selama tiga tahun, ia tidak pernah menyakiti aku, misalnya menduakan dengan wanita lain. Aku mengenal Ifan sebaik orang baik yaitu selalu jujur pada  orang tua, perhatian pada sanak saudara, ramah, sabar dan sebagainya.
Usia Ifan sekarang telah beranjak 22 tahun. Sekarang ia telah disibukkan dengan pekerjaannya sendiri yaitu sebagai tenaga pengajar honorer. Akupun telah menjalani aktivitas sendiri yaitu menempuh kuliah. Walaupun aku dan Ifan disibukkan yaitu dengan aktivitas masing-masing, tetapi hubungan percintaan kami tidak kandas. Ifan masih tetap memperhatikan aku, begitupun dengan aku yang selalu memperingatkannya untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif.
Di saat sekarang ini dimana aku telah disibukkan dengan tugas-tugas yang dibebankan dari kampus, Ifan selalu menghibur aku diwaktu aku suntuk meskipun dengan komunikasi yang jarak jauh yaitu lewat hendpon. Ifan tidak segan-segan dalam menasehati aku agar selalu memperhatikan kuliah dengan baik. Hal inilah yang membuat aku bangga pada dirinya. Meskipun sekarang atau nantinya ada seseorang yang menyukai aku, tetapi aku tidak akan pernah melupakan Ifan begitu saja karena ia sudah banyak berkorban pada diri aku.
Awalnya sebelum aku dan Ifan saling mencintai, maka diantara kami berdua terjadi atau timbul tanda-tanda jatuh cinta termasuk pada diri aku sendiri. Bila sebelumnya aku jarang mengalami masalah tidur, namun saat itu sejak bertemu dan berkenalan dengan dia ingatanku kepada dia semakin memuncak hingga mengganggu  dimasa waktu tidur. Mata sangat susah untuk dipejamkan  dan kadang tidak bisa tidur. Meskipun badan telah merebah, semua tangan dan kaki telah berada di atas kasur, namun mataku enggan untuk dipejamkan. Angan telah melayang jauh dengan memikirkan Ifan. “sedang apa gerangan dia?Apakah sama seperti diriku, mata tidak bisa dipejam?Apakah ia juga sedang memikirkan aku?”Bukan karena nyamuk mengganggu , bukan pula karena aku tidak mandi, tetapi memang karena gelisahnya hati  yang memaksa mata untuk selalu terjaga. Mataku merawang, tidak ada yang berubah di langit-langit kamar, hanya saja pikiran tidak mau diistrahatkan  karena Ifan yang sedang menyita perhatian.
Saat itu pula aku mengenal Ifan, perasaanku senantiasa berdebar-debar jika bertemu dengan ia di jalan. Seringkali aku menjadi salah  tingkah bila Ifan menghampiri. Aku menjadi semakin tidak bisa mengendalikan diri saat Ifan mengajak bicara. Hati berdebar tidak bisa disembunyikan, terbukti tangan bergetar tidak bisa ditahan. Reflek itulah yang hadir  saat aku berada di dekat dia. Ifan merupakan sosok lelaki yang saat itu membuat hati aku tertawan dan berdebar-debar tiada henti. Hingga berubah menuju lidah yang kelu, gugup dan tidak bisa aku mengendalikan diri.
Saat itu aku mulai jatuh hati , keinginan untuk selalu mencari tahu kabar Ifan semakin menggebu-gebu. Aku menjadi orang yang paling tekun mengikuti berita dan kabar tentang dia, hingga semua orang yang dekat dengannya aku tanya. Bagi aku ini adalah hal yang biasa, karena seorang kekasih akan selalu mengikuti kabar kekasihnya.
Di suatu hari hati aku merasa resah dan gelisah bila Ifan tidak kelihatan. Sebaliknya bila Ifan terlihat oleh mata, aku selalu mengalami perasaan yang luar biasa hebat. Aku selalu merasa cemburu bila Ifan berbicara  dan melayani pembicaran orang lain sekalipun kawan-kawannya. Aku akan menjadi  sangat cemburu misalnya Ifan dekat dengan seorang perempuan lain. Bila aku tidak disibukkan oleh sesuatu, maka aku selalu termenung. Pikiran jauh melayang dan pancaindra seolah-olah tertutup untuk menyadari hal-hal yang berlaku di sekeliling, ketika aku memikirkan dia. Di mata aku selalu terbayang-bayang wajah Ifan dengan membayangkan bahwa aku akan menjadi pendamping untuk selamanya dan selalu berada di sampingnya. Semuanya itu merupakan bagian dari resiko jatuh cinta. Aku mengalami kerinduan yang teramat sangat pada dia. Setiap saat mengingat Ifan bagaikan selalu terdengar suara sayup-sayup di telinga. Apapun yang dipandang telah mengingatkan aku pada Ifan. Aku ingin berjumpa dan selalu menginginkan untuk melihat wajahnya. Apalagi bila Ifan pernah memberikan hadiah-hadiah kepada aku. Tentu saja barang-barang hadiah tersebut selalu membuat aku ingat  dan rindu kepadanya.
Begitupun dengan Ifan terhadap aku, sekalipun pulsa telepon mahal , dia tetap sanggup dalam menghabiskan waktu berjam-jam , sehingga habislah waktu tidur untuk hanya ngobrol dan bercanda dengan aku. Dia tidak peduli dengan harga pulsa , yang penting bisa mendengarkan suaraku untuk melepaskan rindu. Lagi pula aku baru terlelap tidur setelah mendengar suara Ifan.
Dengan tanda-tanda cinta tersebut membuat aku dan Ifan semakin percaya dan menjalaninya dengan kokoh tanpa mengharapkan kegoyahan diantara kami berdua. Ifan pun menyatakan cinta padaku dan dengan kata-katanya telah menjadi pendorong semangat untuk dijalani bersama. Dengan percintaan yang aku bangun bersama Ifan, maka aku dapat menyimpulkan bahwa seseorang yang sudah mengenal cinta bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesunyian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Bila bingkainya sesuai syariat dan dilandasi dengan ketulusan, maka cinta itu halal. Namun, bila bingkainya pacaran, perselingkuhan, dan perzinahan maka cinta itu terlarang. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, dan kerinduan. Disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehidupan dikala suka dan duka. Rasa jatuh cinta sukar digambarkan maupun diucapkan dengan kata-kata. Siapa yang jatuh cinta akan senantiasa diusik perasaan. Semuanya menjadi indah dan membahagiakan. Namun, seseorang yang mengalami cinta seperti bermain api. Jika tahu bagaimana cara mengendalikannya maka kita akan selamat. Jika tidak, maka kita akan terbakar hangus dan merana. Karena itu kita harus kokohkan rasa jatuh cinta yang kita miliki jangan sampai tergoyahkan dengan hal-hal lain.  
      















»»  READMORE...

BENTUK KEAJAIBAN DI INDONESIA

BENTUK KEAJAIBAN YANG BERUPA BUKTI DARI KEKUASAAN ALLAH SWT DI DUNIA

             Di dunia ini lebih-lebih di negara kita sendiri, sudah banyak keunikan yang muncul secara tiba-tiba baik dari ulah manusia sendiri, maupun kondisi alam yang sekarang ini sudah semakin hancur. Banyak orang yang melihat segala sesuatu yang luar biasa terjadi di dunia ini sebagai hal yang biasa dan sewajarnya. Padahal, jika berpikir secara logika atau dengan menggunakan akal sehat kita, ternyata ada ribuan keajaiban dunia yang membuktikan kebesaran dari Allah SWT, mulai dari manusia berkepala dua, manusia berwajah kera, makhluk setengah manusia atau setengah binatang dan masih banyak lagi bentuk dari keajaiban Tuhan.
Mungkin saja kita belum menyadari dan melihat kenyataan  ini secara langsung tetapi di bumi bagian Timur sana telah terbukti dan mereka malah mengabadikan peristiwa ini dan berbagai media massa, sehingga masyarakat dunia dapat menyaksikannya secara langsung.  Di negara kita  juga  terjadi keajaiban yang luar biasa, seperti kita dapat menyaksikan secara langsung terjadinya gempa bumi berupa tanah longsor, banjir, dan berbagai bentuk dari kerusuhan-kerusuhan yang terjadi diberbagai pelosok-pelosok dunia. Contoh lain dari bentuk keajaiban yang terjadi di Negara kita seperti ditahun kemarin telah terjadi ledakan sebuah pertamina  di Kabupaten Sidoarjo dan sempat tertangkap kamera dimana cahaya sangat jelas tertulis nama  Allah. Tetapi kebanyakan manusia  mengingkarinya dan malah berpikir bahwa  semua itu adalah bentuk ketidakadilan dari Allah SWT.
Dari keajaiban tersebut kita dapat berpikir, bahwa inilah luar biasanya manusia semakin cerdas dan semakin bodoh. Mengapa demikian?. Karena pada dasarnya orang yang mempunyai banyak ilmu dan kebihan, malah mempertanyakan segala hal dan kebenaran di muka bumi ini yang diukur dengan akal sehatnya. Orang-orang tersebut dapat dikategorikan sebagai orang bodoh yang betul-betul sudah kehilangan akal dan tidak dapat mengendalikanan dirinya kembali. Padahal, seharusnya  manusia-manusia munafik itu sadar bahwa Allah bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya.
Orang-orang Yahudi dikenal dengan tingkat kecerdasan yang cukup tinggi, sehingga mengapa mereka juga sakral dengan sebagian masyarakat yang atheis (tidak beragama). Jawabannya benar karena mereka sudah terjebak betul dengan ilmu pengetahuan mereka sendiri, sehingga semua kebesaran Allah dinalar dengan pikiran mereka. Jika semua  itu tidak masuk akal, maka jawabannya jelas tidak benar. Maka dari itu berhati-hatilah dalam mempelajari ilmu pengetahuan karena jangan sampai kita sendiri yang malah jatuh didalamnya dan makin jauh dari agama.
»»  READMORE...

ANALISIS DRAMA "Waktu Perempuan"

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Karya sastra adalah ekspresi dan luapan perasaan dari pengarang yang bersifat imajinatif dan mengandung unsur keindahan dan bermanfaat. Menurut genrenya hasil dari karya sastra itu dibedakan menjadi tiga bagian, yakni puisi, prosa, dan drama. Terkhusus dalam penganalisan ini penulis mengambil salah satu dari ketiga bagian itu, yaitu karya sastra dalam bentuk drama.  Drama adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan antara tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi, 2006: 104).
Dalam melakukan penganalisisan dalam suatu karya sastra, dalam hal ini drama maka penulis mengambil salah satu teori dalam penganalisisannya yang pada notabenenya banyak teori yang dapat digunakan. Terkhusus pada penganalisisan kali ini penulis mengambil teori feminis untuk menganalisis karya ini.  Melihat drama “Waktu Perempuan” karya “Royal Ikmal” sangat memungkinkan untuk didekati dengan teori feminis, maka penulis mengambil teori feminis untuk memudahkan penganalisisan ini dengan mendekatinya dengan pendekatan ekspresif yang kemudian menghubungkannya dengan  sikap dan posisi perempuan dalam drama ini.
Secara etimologis feminis  berasal dari kata femme (women) berarti perempuan (tunggal) yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak) sebagai kelas sosial, yang bertujuan untuk  keseimbangan dan interelasi gender. Dengan kata lain, teori feminis adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan dan direndahkan oleh kebudayaan dominan baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya. Kemudian pendekatan ekspresif yaitu suatu pendekatan yang menitikberatkan pada pengarang karya itu sendiri dalam menganalisis suatu karya sastra. Melihat adanya perbedaan yang sangat mencolok antara teori feminis dengan pendekatan ekspresif, maka penulis akan menghubungkan keduanya dengan memperhatikan pikiran-pikiran tokoh, perasaan tokoh, dan tingkah laku tokoh dalam kaitannya dengan sikap dan posisi perempuan dalam drama ini.
Setelah membaca drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal ini, maka akan muncul beragam penafsiran yang berbeda-beda dari setiap pembacanya. Namun, itulah gunanya kita menganalisis sebuah karya sastra agar kita dapat memperoleh pesan yang sesuai pemikiran kita dari karya sastra yang kita analisis. Drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal ini mengisahkan tentang kaum perempuan yang ingin mengatakan dan menyadarkan  laki-laki bahwa perempuanlah yang memiliki kekuasaan terhadap laki-laki. Namun, hal itu ditentang oleh para laki-laki hingga membuahkan kekecewaan bagi perempuan. Dari pemaparan singkat di atas maka penulis ingin menjelaskan atau menuliskan sikap dan posisi perempuan dalam drama ini.

B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan yang akan dibahas dalam analisis ini adalah sebagai berikut.
1.    Bagaimanakah pendekatan ekspresif menjelaskan sikap dan posisi perempuan dalam drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal?
2.    Bagaimana sikap dan posisi perempuan dalam drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal?
3.    Bagaimana cara pengarang menempatkan perempuan dalam drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal?

C.    Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut.
1.    Untuk mengetahui bagaimana pendekatan ekspresif menjelaskan sikap dan posisi perempuan dalam drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal.
2.    Untuk menjelaskan Bagaimana sikap dan posisi perempuan dalam drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal.
3.    Untuk mengetahui cara pengarang menempatkan perempuan dalam drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal.

D.    Manfaat
Dari setiap analisis akan menghasilkan interpretasi yang berbeda-beda dari setiap penganalisis, terkhusus pada analisis ini penulis mengemukakan beberapa manfaat sebagai beri kut.
1.    Untuk mengetahui hubungan antara teori feminis dengan pendekatan ekspresif dalam menganalisis suatu karya sastra, dalam hal drama.
2.    Untuk mengetahui hubungan antara teori feminis dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku tokoh dalam dalam drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Kata sastra dapat ditemukan di berbagai aspek dan konteks  yang berbeda. Sastra merupakan istilah yang luas. Sastra dapat dipandang sebagai sesuatu hasil yang dapat dinikmati, sastra juga merupakan suatu yang erat hubungannya dengan ciri-ciri khusus suatu bangsa atau kelompok masyarakat. Sastra adalah bentuk ciptaan manusia ke dalam bentuk sastra, baik tulisan maupun lisan yang dapat menimbulkan rasa senang. Dalam membaca dan memahami karya sastra kita selalu menghadapi keadaan yang paradoksal, pada satu pihak sastra merupakan  keseluruhan yang bulat, otonomi, di sisi lain tidak berfungsi dalam situasi kosong. Sebagaimana pengertiannya bahwa sastra adalah  hasil karya seseorang yang diekspresikan melalui tulisan yang indah yang bernilai dominan atau dengan kata lain sastra  merupakan hasil cipta atau karya manusia yang dapat dituangkan melalui ekspresi yang berupa tulisan yang mengandung unsur keindahan, yang menimbulkan rasa tenang, menarik perhatian, dan menyegarkan perasaan bagi penikmatnya. Hal ini sepadan dengan pendapat Horace bahwa hakikat dan fungsi karya sastra adalah “dulce et ulite”yang artinya menyenangkan dan berguna. Kedua hal tersebut mempunyai kaitan arti yang kuat dan menimbulkan suatu pengertian. Oleh karena itu hakikat dan fungsi karya sastra tersebut menjadi hasil kebudayaan yang pantas mendapatkan perhatian( Kusdiratin, 1985:1).
Kedudukan dan manfaat karya sastra bagi seorang pencipta karya sastra tidaklah hanya sekedar untuk mengekspresikan  pengalaman jiwanya saja, tetapi lebih dari itu. Pengarang bermaksud untuk mempengaruhi pembaca agar ikut memahami, dan menghayati ide yang dituangkan dalam karya sastra tersebut. Penulis sastra bukanlah seorang yang  sekedar menulis bahasa. Penulis sastra membuat sebuah dunia kehidupan dengan menggunakan bahasa pilihan yang tepat dan secara estetis. Maka jelas bahwa salah satu ciri karya sastra adalah bersifat imajinatif yaitu menimbulkan citra atau banyangan tertentu di dalam benak penikmatnya sehingga mampu membangkitkan perasaan senang, sedih, marah, benci, dan dendam. Perasaan itu muncul bukan karena perasaan atau pertentangan nasib melainkan pengaruh teknik penceritaan penulis.  Sesuatu yang disampaikan oleh seorang sastrawan atau penulis karya sastra adalah tentang manusia dengan segala macam perilakunya. Kehidupan manusia tersebut diungkapkan lengkap dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu karya sastra dapat menambah kekayaan batin setiap hidup dan kehidupan ini. Karya sastra mampu menjadikan manusia memahami dirinya dengan kemanusiaannya.
Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini terkandung nilai atau hikmah yang dapat kita petik manfaatnya. Untuk dapat menangkap nilai-nilai tersebut diperlukan kepekaan dan kearifan. Bagi orang awam hal yang mungkin tidak dapat menjadi semangat berarti bagi seorang penulis karya sastra. Sesuatu yang tidak dianggap berarti bagi masyarakat itu diolah oleh pengarang kemudian diwujudkan kembali dalam bentuk karya sastra. Maka jelas bahwa yang menjadi objek karya sastra adalah manusia dengan bermacam-macam aspek kehidupannya. Dengan demikian karya sastra menjadi sarana yang amat penting untuk mengenal secara sempurna terhadap manusia dan zamannya.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa, bentuk-bentuk karya sastra ini biasanya berupa prosa, puisi, dan drama.  Drama adalah salah satu  karya sastra yang sering dikaji oleh para pengkaji karya sastra.  Dalam dunia sastra, drama merupakan salah satu genre sastra yang menarik untuk dibahas. Istilah drama berasal dari Yunani, yaitu dramoi yang berarti ‘aksi’ atau ‘perbuatan’. Istilah drama itu sendiri sudah menyiratkan makna ‘peristiwa’, ‘karangan’, dan ‘risalah’.
Drama  adalah sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di anatara tokoh-tokoh yang ada. Drama juga secara eksplisit memperlihatkan adanya petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan tokoh (Hall dalam Wahyudi, 2006: 104).
Dalam menkaji suatu karya sastra, sebagaimana karya-karya sastra lainnya tentunya diperlukan pendekatan atau teori yang dapat digunakan untuk mengkaji makna yang terkandung dalam karya sastra. Demikian pula dengan karya sastra drama. Pada pengkajian ini penulis mengkaji drama ini dengan menggunakan gabungan teoro feminis dan pendekatan ekspresif. Sebagaimana yang diketahuibahwa teori feminis adalah sebuah gerakan dari golongan perempuan untuk membela dan memperjuangkan hak-hak wanita. Dan untuk mengetahui hal-hai yang berkaitan dengan perjuangan wanita dalam drama ini maka penulis menggunakan pendekatan ekspresif. Dimana, pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan kajiannya pada hubungan karya sastra dengan pengarangnya.
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang mendasarkan pada pencipta atau pengarang karya sastra. Telaah ini didasarkan pada teori ekspresif yang memandang suatu karya seni yang secara esensial sebagai dunia internal (pengarang) yang terungkap sehingga menjadi dunia eksternal (berupa karya seni); perwujudannya melalui proses kreatif, dengan titik tolak dorongan perasaan pengarang; dan hasilnya adalah kombinasi antara persepsi, pikiran dan perasaan pengarangnya. Sumber utama dan pokok masalah suatu karya sastra adalah sifat-sifat dan tindakan-tindakan yang berasal dari pemikiran pengarangnya.
Di sisi lain Rohrberger dan Woods (1971:8) memandang pendekatan ekspresif ini sebagai pendekatan biografis. Dalam kaitan ini, mereka menjelaskan, pendekatan biografis menyaran pada perlunya suatu apresiasi terhadap gagasan-gagasan dan kepribadian pengarang untuk memahami obyek literer. Atas dasar pendekatan ini, karya seni dipandang sebagai refleksi kepribadian pengarang, yang atas dasar pengalaman estetis pembaca dapat menangkap kesadaran pengarangnya; dan yang setidak-tidaknya.sebagian respon pembaca mengarah kepada kepribadian pengarangnya. Untuk itu, dengan pendekatan ekspresif penelaah hendaknya mempelajari pengetahuan tentang pribadi pengarang guna memahami karya seninya).
Telaah dengan pendekatan ekspresif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pengarang dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, imajinasi, spontatanitasnya dan sebagainya.
Dalam pengkajian karya sastra dengan pendekatan ekspresif, atau hal-hal yang terkandung dalam drama yang berhubungan dengan pengarang dapat dilihat dari pikiran-pikiran pengarang yang ada pada tokoh-tokoh karya sastra yaitu dapat dapat melalui pikiran-pikiran tokoh, perasaan-perasaan tokoh, dan tingkah laku tokoh. Hal ini dapat memudahkan penulis atau pengkaji karya sastra dalam menganalisis makna- makna yang terkandung dalam karya sastra.


BAB III
PEMBAHASAN

A.    Ringkasan Drama “Waktu Perempuan”karya Royal Ikmal

Drama “Waktu Perempuan” karya Royal Ikmal ini mengisahkan tentang kaum perempuan yang ingin mengatakan dan menyadarkan  laki-laki bahwa perempuanlah yang memiliki kekuasaan terhadap laki-laki. Namun, hal itu ditentang oleh para laki-laki hingga membuahkan kekecewaan bagi perempuan.  Dalam drama ini, kisahnya diawali dengan  merasa senang dan puasnya pemuda1 karena ia telah  melakukan “sesuatu” kepada perempuan 1hingga perempuan itu merasa dilecehkan. Perempuan1 berusaha membela diri bahwa apa yang dilakukan pemuda 1 yang membuat dirinya tersiksa adalah sebuah kesalahan. Namun pemuda 1 menganggap hal itu merupakan hal yang wajar dan pemuda 2  pun mendukung apa yang dilakukan oleh pemuda1. Masalah kemudian muncul ketika manusia terbalik berusaha menggoda dan mengajak  pemuda 2 untuk menjadi pengikutnnya. Dimana manusia terbalik mengatakan bahwa semua kesenangan ada padannya dan dia adalah sunber kesenangan itu. Pemuda 2 kemudian menjadi pengikut dari manusia terbalik itu.
Pada adegan 2 kemudian muncul seorang perempuan tua.  Pemuda 1 berusaha memohon  sesuatu pada perempuan tua ini. Pemuda 1 memohon keringat dan debu tangan perempuan tua  namun, perempuan tua tidak memberikan apa yang diminta oleh pemuda1 tapi ia berusaha memotivasi pemuda satu agar ia mau berusaha dan memakan keringat dan debu tangannya sendiri.  Perempuan tua menyuruh pemuda 1 untuk tidur sejenak hingga akhirnya pemuda1 bertemu dengan perempuan 2 yang membuatnya harus bekerja keras untuk hidupnya.
  Masalah puncaknya kemudian terjadi pada adegan 3. Dalam adegan ini pemuda 1 dan pemuda 2 bersatu melawan perempuan1 dan perempuan 2 untuk mempertahankan gender masing- masing bahwa gender laki-lakilah yang berkuasa namun  perempuan juga menganggap bahwa gender perempuanlah yang menguasai laki-laki. Sebagai buktinya laki-laki mempunyai ibu yang menyusui mereka. Perempuan 1 berusaha mengeluarkan kotoran dari pikiran para pemuda itu namun hasilnya sia-sia. Pemuda1 dan pemuda 2 tetap tidak mau mengalah,  mereka mengatakan bahwa perempuan juga mempunyai ayah yang mencari nafkah untuk mereka. Perbedaan pendapat antara pemuda1, pemuda 2 dan perempuan 1, perempuan 2 semakin memuncak hingga membuahkan kekecewaan bagi perempuan dan pemuda 1  dan pemuda 2 pergi begitu saja meninggalkan perempuan tanpa peduli terhadap kekecewaan yang dialami perempuan. Drama ini kemudian diakhiri  pada adegan 4 dengan munculnya perempuan tua yang mengatakan bahwa tidak penting kita memperdebatkan siapa yang berkuasa. Karena semua mahluk hidup pasti akan kembali ke asalnya.

B. Analisis  Drama “Waktu Perempuan” Karya Royal Ikmal

Perempuan dalam pandangan masyarakat sosial adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang sempurna yang dikodratkan kedudukannya berada di bawah kedudukan laki-laki. Hal ini sudah menjadi pemahaman umum  bagi masyarakat khususnya kaum laki-laki. Sehingga hal ini pulalah yang menjadi dasar  adanya sikap kesewenang-wenangan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan. Namun, jika ditinjau dari segi kedudukan perempuan, ada sedikit pandangan yang keliru dari sebagian masyarakat sosial  yang muncul dan berkaitan dengan posisi perempuan dalam suatu kehidupan khususnya dalam menginterpretasikan dan mengimplementasikan ajaran agama Islam. Dimana kedudukan perempuan dianggap tidak sejajar dengan kedudukan laki-laki. Misalnya, di wilayah domestik perempuan seringkali dianggap tidak memiliki kekuatan yang sama dengan laki-laki dalam melakukan sesuatu hal. Hal ini bisa dilihat bahwa dalam ajaran agama Islam tidak pernah menempatkan kaum perempuan sebagai anggota masyarakat dengan hak dan tanggung jawab yang lebih rendah dari kaum laki-laki.  Begitu pula halnya dari sisi hukum. Perempuan tetap memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dengan laki-laki di sisi hukum. Namun tidak demikian bagi sebagian kaum laki-laki.
Dalam analisis ini, penulis mencoba mengkaji dan meneliti bagaimana sikap dan posisi perempuan dalam drama “Waktu Perempuan”karya Royal Ikmal dengan mendekatinya dengan pendekatan ekspresif. Dalam drama ini penulis membagi dramanya menjadi empat adegan. Pada adegan pertama, penulis mulai memaparkan bagaimana sikap dan sifat seorang laki-laki dan perempuan. Pada adegan  kedua konflik mulai dimunculkan dimana dengan  hadirnya tokoh manusia terbalik. Kemudian pada adegan ketiga, konflik dalam drama ini semakin memuncak dan disertai dengan adegan keempat dimana adegan ini merupakan bagian penyelesaian dari konflik-konflik sebelumnya.
Pada adegan pertama, penulis mendeskripsikan sifat dan karakter dari laki-laki dan perempuan. Dimana laki-laki digambarkan dengan sikap yang angkuh dan suka memanfaatkan kelemahan seorang perempuan. Dimana mereka menganggap diri merekalah yang paling berkuasa dan segala yang mereka inginkan dapat mereka capai dengan menghalalkan segala cara. Namun, gambaran sikap perempuan dalam drama ini berbanding terbalik dengan sikap yang dimiliki oleh laki-laki. Dimana  perempuan digambarkan dengan sikap pasrah dan ikhlas serta rela menerima apa saja yang dialaminya. Kemudian penulis menampilkan salah seorang tokoh yang dapat memanipulasi diantara keduanya.
Pada adegan dua penulis mulai memunculkan bahwa:
•    Perempuan sudah memperlihatkan bahwa ia juga dibutuhkan oleh laki-laki.
•    Perempuan merupakan pemotivasi bagi mereka para pihak laki-laki,maksudnya yaitu perempuan sebagai tempat untuk mengadukan masalah mereka karena mereka menganggap bahwa perempuan memiliki pola pemikiran yang tenang dan bijaksana sehingga perempuan dapat memikirkan suatu jalan pemecahan dari suatu masalah dengan baik.
•    Dengan hadirnya perempuan yang membutuhkan laki-laki maka laki-laki pun berfikir tentang cara agar dia bisa menghidupi perempuan.Dalam hal ini perempuan sangat disayangi dan dibutuhkan oleh laki-laki karena perempuan mampu memberikan ketenangan batin ataupun perasaan bahagia kepada setiap laki-laki tertentu dengan sikap dan perilaku yang dimiliki oleh perempuan tersebut.
Kemudian,pada adegan tiga penulis telah memperlihatkan bahwa:
1.    Terjadi perdebatan yang mengemukakan bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai peranan yang derajatnya sama.
2.    Telah dikemukakan bahwa laki-laki mempunyai peranan dan kedudukan tersendiri dalam kehidupan manusia yang tidak bisa diambil alih oleh pihak perempuan,begitu pula sebaliknya perempuan juga mempunyai peranan dan kedudukan yang tidak bisa diambil alih oleh pihak laki-laki, Dalam hal ini laki-laki dan perempuan mempunyai peranan masing-masing yang telah dikodratkan sejak nenek moyang kita ada.
3.    Laki-laki tidak mau mengalah,begitupula perempuan.Hal ini disebabkan karena laki-laki dan perempuan mempunyai peranan masing-masing yang kedudukannya sangat penting dan seimbang dalam kehidupan manusia.
Selanjutnya,pada adegan empat,penulis mengemukakan bahwa jika dianalisis dari teori feminis, ia tidak memikirkkan  adanya perbedaan gender antara perempuan dan laki-laki.Penulis menyimpulkan bahwa keduanya akan kembali pada satu tempat juga yaitu Sang Maha Pencipta. Hal tersebut sangatlah jelas dikemukakan oleh penulis dalam setiap dialog-dialog yang disampaikan oleh para tokoh.



BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Sikap dan posisi perempuan dalam drama Waktu Perempuan karya Royal Ikmal terlihat tidak adanya keberpihakan penulis pada kedudukan perempuan dalam pandangan sosial.  Penulis tidak merendahkan atau peranan perempuan di mata sosial. Namun penulis sudah berusaha untuk menjadikan perempuan mampu memunculkan idenya dalam suatu masalah gender. Hal ini terlihat pada kutipan adegan tiga berikut: 
Perempuan 1        : Kalian punya ibu yang menyusui kalian.
Perempuan 2        : Aku bosan mengeluarkan kotoran di kepala kalian dan           
    menunjukkan  jalan untuk kalian. (Berpikir sejenak) Aku punya
    pakaian yang kalian bisa memakainya untuk mengganti pakaian
    kalian yang telah usang.
Perempuan 2    : Ia. Memang betul. Tapi, kami yang menjadikannya.
Perempuan 2    : Kenapa kalian tidak mau mendengarkan kami.

    Royal Ikmal dalam drama Waktu Perempuan ini telah berhasil memposisikan perempuan sebagaimana kodratnya yang lebih tinggi dua tingkat dari seorang laki-laki. Kemampuannya dalam memunculkan dialog-dialog yang mempertegas kehadiran seorang perempuan dalam hidup sangat rapi dibungkusnya dalam kata-kata yang sederhana dan penuh makna. Royal tak mementingkan lagi masalah gender, terbukti tak ada yang dimenangkan antara laki-laki dan perempuan melainkan penulis mengakhiri karya dengan adanya kepuasan antara perempuan dan laki-laki.


DAFTAR PUSTAKA

Djojosuroto, Kinayati.2004. Pengajaran Puisi Analisis dan Pemahaman. Jakarta : Nuansa.
Ikmal, Royal. Waktu Perempuan.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta: UGM (Gajah Mada University  Press).
Segers, Rien T. 2000. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta: Adicita.
Sumarti, Ninik. 2009. Struktur Cerita dan Tema Dalam Naskah Drama “Kejahatan  Membalas Dendam”Karya “Idrus. Kendari: FKIP Unhalu.
Suroto. 1989. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Udu, Sumiman dan La Niampe. 2008. Teori Sastra. Kendari: FKIP Unhalu.
Wellek, Renne dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

»»  READMORE...

Senin, 05 Desember 2011

Aneka Kelas Verba Tindak Ujar



A.    Verba Ilokusi dan verba Perlokusi

Aneka kontras yang terdapat antara ilokusi, perlokusi dan kategori-kategori tindak ujar biasanya telah diilustrasikan secara khas dengan daftar-daftar verba, seperti contoh verba ilokusi yaitu melaporkan, mengumumkan, menanyakan, memohon,mengucapkan selamat, mengucapkan terima kasih, sedangkan verba perlokusi contohnya seperti menarik perhatian, membohongi, menakuti, memikat, membosankan, dan lain-lain.
Bach and Harnish, 1979: 42 mengemukakan bahwa contoh kalimat dari tindak verba ilokusi seperti:
1.    Sang peneliti menyimpulkan bahwa cuaca berubah pelan-pelan.
2.    Sang dosen menyimpulkan bahwa cuaca berubah pelan-pelan.
Penjelasan: Pada (1) kata menyimpulkan dapat diartikan sebagai ‘ mencapai kesimpulan bahwa”, dan pada (2) sebagai “ mengatakan dalam kesimpulan bahwa”. Dalam hal ini kalimat (1) makna intelektualnya yaitu menarik suatu kesimpulan dari fakta-fakta atau dari premis-premis dengan argument, sedangkan kata menyimpulkan pada kalimat (2) dapat juga ditafsirkan dalam makna intelektual yaitu sang dosen menjelaskan kesimpulan terhadap mana argument logis dari kuliahnya ditunjukkan.
Contoh kata mencoba yang merupakan pembeda verba ilokusi dan verba perlokusi yaitu:
3.    Ida mencoba membunjuk saya untuk menemaninya.
4.    Ida mencoba meminta saya untuk menemaninya.
Penjelasan: Dalam kasus verba perlokusi ada (3) kata mencoba mengimplikasikan bahwa    ilokusi gagal mencapai efek perlokusi yang diharapkan, sedangkan kata mencoba meminta pada kalimat (4) menyarankan bahwa penyimak tidak mendengarkan atau tidak dapat memahami penggunaan bahasa pembicara.


B.    Klasifikasi Verba Ilokusi

a.    Verba asertif biasanya muncul dalam konstruksi S verba (…) bahwa X  (S = subjek mengacu kepada pembicara dan X mengacu kepada suatu proposisi). Contoh: menegaskan, meramalkan, mengumumkan.
Contoh lain: Ibu memberitahukan kami bahwa kabar itu bohong.
b.    Verba direktif biasanay muncul dalam konstruksi S verba (o) bahwa X (S dan O mengacu kepada subjek dan objek (yang masing-masing mengacu pada pembicara2 dam penyimak2). Contoh: meminta, menawar, melarang.
c.    Verba Komisif biasanya muncul dalam konstruksi S verba bahwa X (di mana klausa-klausa-bahwa adalah nonindikatif). Contoh: menawarkan, menjanjikan, bersumpah.
d.    Verba Ekspresif biasanya muncul dalam konstruksi S verba (prep) (O) (prep) Xn (di mana ‘prep’ adalah preposisi fakultatif dan Xn adalah fase nomina abstrak).
Contoh: meminta maaf, menaruh simpati, memaafkan.
e.    Verba Rogatif adalah verba yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah stu dari keempat kategori di atas. Contoh: menamai, membatasi, menghubungkan.

Lima subkategori predikat ilokusi yaitu:
a.    Predikat asertif yaitu memperkenalkan pernyataan yang dilaporkan
b.    Predikat direktif dan komisif yaitu memperkenalkan perintah yang dilaporkan.
c.    Predikat rogatif yaitu memperkenalkan pertanyaan yang dilaporkan.
d.    Predikat ekspresif yaitu mengimplikasikan bahwa pembicara kedua mensyaratkan kebenaran proposisi yang sesuai dengan isi proposional.
Contoh: Kakak tidak mengeluh bahwa abang makan terlalu banyak (asertif).
              Kakak tidak mencela abang karena makan terlalu banyak (ekspresif).
Penjelasan: Kata mengeluh maupun mencela mengacu kepada tindak ujar yang mengekspresikan sikap pembicara kedua terhadap prilaku penyimak kedua.       
 
 
 
»»  READMORE...

Ringkasan Mengenai Naskah Drama

 Ringkasan Mengenai Naskah Drama yang Pernah Dibaca.

Drama yang pernah dibaca terdiri atas 5 naskah drama yaitu 4 naskah Drama Nasional dan satu naskah Drama Lokal, diantaranya yaitu :
1.      Naskah drama “Titik-Titik Hitam” karya Nasya Djamin yang merupakan drama satu babak tahun 1956.
2.      Drama komedi “Pagi Bening” karya Safin dan Joaquin Alvarez Quintero yang merupakan terjemahan Drs Sapardi joko Darmono @ 2006.
3.      Naskah drama “Malam Terakhir” karya Yukio Mishima, diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar.
4.      Naskah drama “Mangir” karya Pramudya Ananta Toer.
5.      Naskah drama “Ningrat” karya Laode Sadia (drama Lokal).

1.      Drama “ Titik-Titik Hitam”, karya Nasya Djamin

Drama yang terdiri atas 6 adegan ini para pelakunya terdiri dari Adang, Hartati (istri Adang), Trisno (adik Adang), Rahayu (adik Hartati), Ibu (ibu Hartati dan Rahayu) dan Dr Gun. Dalam drama Titik-Titik Hitam ini mengangkat persoalan mengenai sesuatu hal berupa kehidupan yang dialami dalam sebuah keluarga. Mula-mula peristiwa terjadi di ruang depan rumah Adang. Adang muncul dengan kelakuan aneh yaitu sedang mondar-mandir dengan rasa gelisah. Kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu. Dengan kelakuannya tersebut ibu Hartati mulai marah dan  menegurnya tentang apa yang ia bingungkan. Dalam peristiwa ini sempat terjadi perdebatan antara keduanya. Adang selalu mencari pembelaan di depan ibu Hartati.. Memang pada dasarnya ibu Hartati tidak setuju dengan perkawinan mereka. Ia benci pada Adang. Mungkin saja Adang bingung dengan keadaan istrinya yang sedang sakit. Hartati telah dirawat dengan dr. Gun. Dr. Gun adalah teman dekat dari ayah kandung Hartati. Hartati mempunyai adik kandung perempuan yang bernama Rahayu. Dulunya mereka tinggal dalam satu rumah. Tetapi Rahayu sempat kabur dari rumah karena ia menginginkan kehidupan yang merdeka. Sejak kepindahannya tersebut kakanya Hartati mulai sakit. Dengan penyakit yang dialaminya dr. Gun sempat bicara pada ibu Hartati, kalau Hartati masih bisa sembuh asalkan Hartati sendiri bangkit dari penyakitya. Dr. Gun selalu memandang foto Hartati yang di pajang di atas dinding. Kata ibu Hartati foto tersebut merupakan hasil lukisan dari adik Adang yang bernama Trisno. Ia menggambarnya denga setengah badan. Dr, Gun sempat bercakap-cakap dengan ibu Hartati dan ia menjelaskan bahwa ia tidak lagi menemukan kebahagiaan dalam diri Tati seperti yang ada dalam foto. Setelah berbincang-bincang Rahayu pun datang setelah ditelpon dengan Adang kalau kakaknya sakit
Melihat kelakuan Ayu yang menginginkan kemerdekaan dr. Gun mulai menasehatinya agar ia selalu menghormati orang tua dan kakanya. Dr. Gun memperingatkan agar Ayu tidak mengulangi perbuatannya tempo dulu yaitu hamil di luar nikah. Meskipun dulunya sempat digugurkan kandungannya dengan ditolong  oleh dr. Gun sendiri. Begitu pun dengan ibu Rahayu yang selalu memperingatkan Ayu. Ayu memilih kabur bersama Trisno dan mereka tinggal di pegunungan. Keduanya saling mencintai. Ayu juga menjelaskan masalah yang sempat membuatnya kabur dari rumah bahwa ia sempat bertengkar dengan kakanya Tati dan  ia pun mengalah dan tidak menginginkaan kalau kakaknya mengetahui hubungannya dengan Trisno. Hal itulah yang membuat kakanya hingga jatuh sakit. Setelah mengetahui penjelasan tersebut ibu Hartati sadar dan langsung memaafkan Rahayu. Mereka pun berdamai.

2.      Drama “Pagi Bening“ karya Sarifin dan Joaquin Alfarez Quintero.

Drama ini mengangkat persoalan masalah sebuah pertemuan yang mengingatkan masa lalu. Para pelaku / tokoh dalam darama ini adalah Donna Laura yang merupakan wanita tua berumur kira-kira 70 tahun yang bermental baik, Don Gonzalo 70 tahun merupakan lelaki tua yang selalu tampan dan tidak sabaran, Petra merupakan gadis pembantu Laura, dan Junianto merupakan pemuda pembantu Gonzalo.
 Pertama-tama peristiwa terjadi di sebuah taman umum yang dilengkapi dengan bangku-bangku dan bunga-bunga. Tokoh diawali dengan Laura yang ingin duduk di sebuah bangku taman umum. Saat itu matahari agak panas. Keadaan seperti itu akhirnya laura menyuruh Petra untuk menemui tukang kebun karena menurut penglihatannya tukang kebun tersebut sudah lama menanti Petra. Petra pun mau dan sebelum menemuinya, Laura terlebih dahulu meminta remah-remah roti untuk makanan burung-burung seperti merpati. Ketika Laura masih memberi makan burung-burung, tiba-tiba Gonzalo muncul dengan kakinya yang bengkak bersama Juanito. Gonzalo ingin duduk di bangkunya sendiri, tetapi bangkunya telah diduduki dengan tiga orang pendeta. Ia langsung marah dan menyuruh Juanito untuk menyingkirkan pendeta-pendeta tersebut. Akhirnya Gonzalo terpaksa duduk di bangku sebelah Laura. Laurapun mengajak bicara Gonzalo dengan berkata agar ia berhati-hati pada burungnya. Gonzalo semakin marah dan kesal pada pendeta-pendeta karena mereka belum pergi-pergi. Ia terpaksa duduk dengan Laura yang sudah tua karena bangkunya sedang diduduki dengan orang lain. Gonzalo mulai mengelap sepatunya dengan sapu tangan. Melihat hal tersebut, Laura mengkritiknya. Akhirnya, Gonzalo makin marah dan berkata agar Laura tidak mencampuri urusannya. Ia juga meminta buku pada Juanito. Di dalam bukunya berisi beberapa penggalan sajak. Setiap dibaca isi buku tersebut, ia selalu menggunakan kaca mata. Sebelum membaca Gonzalo terlebih dahulu meminta obat bersin pada Juanito. Ia juga menawarkan obat tersebut pada Laura. Keduanyapun merasa enak setelah menikmati obat tesebut.
 Berbeda dengan Laura yang membaca sajak tanpa menggunakan kaca mata / kaca pembesar. Gonzalo makin iri pada penglihatan Laura. Kemudian mereka bercerita tentang engalaman ya g pernah dialami di masa lalu. Gonzalo telah menceritakan bahwa ia pernah ke Amerika begitupun dengan Laura yang dulunya sempat dibesarkan di sana pula. Laura menceritakan pertemuannya denga seorang lelaki waktu di jendela kamarnya. Gonzalo menanggapi bahwa gadis itu sangat ideal dan manis. Iapun mengumpamakan dirinya sebagai saudara sepupunya begitupun Laura yang menyembunyikan dirinya sebagai oaring lain. Laura menceritakan apa yang dilakukan Gonzalo tempo dulu. Ia selalu menyembunyikan bahwa seolah-olah cerita tersebut ia dapati dari temannya yang menyuratinya. Keduanya telah menyembunyikan rahasia masing-masing seperti Laura yang tidak menceritakan bahwa ia sudah kawin dengan teman duelnya setelah dua tahun lamnya menjalani profesi tersebut. Begitu juga dengan Gonzalo yang tidak ingin bercerita bahwa ia sudah kawin dengan penari balet dari Paris. Merekapun semakin sadar dan tidak bertengkar lagi. Setelah mereka bercerita, Gonzalo meminta untuk pulang dan ia memanggil kembali Juanito. Sebelum Gonzalo pergi ia sempat berkata, bahwa besok pagi ia akan dating kembali di tempat tersebut dengan membawa remang-remang roti. Juanito menghampiri Gonzalo dan tukang kebun sempat memberikan bunga untuk Laura. Keduanya mulai berpisah dan Laura melangkahkan kakinya. Gonzalo membungkuk memunguti bunga yang jatuh dari bunga Laura. Laurapun bertanya tentang apa yang sudah dilakukan gonzalo. Dari peristiwa ini laura semakin percaya bahwa laki-laki tua itu merupakan Gonzalo yang sesungguhnya karena apa yang dilakukan saat itu, seperti apa yang dilakukan sebelumnya ketika masa muda. Gonzalo juga makin percaya bahwa perampuan tua yang ditemuinya merupakan Laura sesungguhnya sewaktu ia kenal dimasa muda. Keduanyapun tersenyum.

3.      Drama “Malam Terakhir”, karya yukio Mishima

Drama yang berjudul “Malam terakhir” mengangkat persoalan tentang seseorang yang sudah tua sedang duduk termangu sambil menghitung punting rokoknya. Tokoh-tokoh dalam drama ini adalah perempuan tua, penyair, laki-laki I, laki-laki II, laki-laki III, perempuan I, perempuan II, perempuan III, agen polisi, beberapa penyair, beberapa pasangan kekasih, beberapa pengemis, dan beberapa pelayan rumah makan.
 Dalam drama ini cerita diawali dengan  perempuan tua yang sedang menghitung punting rokok. Tiba-tiba dibelakang muncul seorang penyair yang memperhatikan perempuan tersebut. Kemudian perempuan tua memberikan rokok kepada penyair, tetapi ia menolaknya. Perempuan tua bisa meramal bahwa orang yang sedang menemaninya dan mengajaknya bicara betul-betul seorang penyair. Ia bisa meramal bahwa tujuan dari penyair dating di tempat tersebut adalah untuk mengumpulkan kesan-kesan yang kemudian ia olah menjadi sajak-sajak. Setelah perempuan menanyakan hal itu, si penyair menyangkal. Keduanya duduk dibangku yang letaknya di taman sambil bercerita. Perempuan tua menceritakan kisah hidupnya hingga berumur 99 tahun. Begitu juga dengan penyair yang sudah mabuk. Perempuan tua selalu mengungkap cerita tentang apa yang dilihat di bangku taman dimana ia duduk. Ia selalu melihat laki-laki bersama perempuan selalu bermesraan sambil bercerita tanpa memikirkan keadaan di sekeliling. Dalam keadaan seperti itulah menurutnya bahwa penyair akan memanfaatkan hal tersebut. Tetapi saat itu penyair memandang bahwa perempuan tua tidak menjadi kerut-kerut lagi mukanya. Menurut penglihatannya ia tetap seperti perempuan yang masih berumur 19 tahun.
Perempuan tuapun beranggapan bahwa bangku-bangku yang ada di sekelilingnya akan menjadi hidup kembali ketika ada laki-laki bersama perempuannya yang akan mendudukinya. Ia juga menceritakan semua orang-orang yang datang di tempat itu. Orang-orang yang datang di tempat itu dan semua laki-laki yang pernah memuja kecantikannya selalu memanggilnya dengan Koachi. Semua laki-laki yang memuja kecantikannya telah meninggal dunia. Begitupun dengan penyair yang mulai merayu. Perempuan tua telah menceritakan hubungannya waktu dulu dengan Kapten Fukaksa. Dulu para perempuan selalu memuji dan iri pada kecantikan Komachi. Setelah menceritakan masa lalunya, penyair semakin memujinya. Iapun akan mengatakan bahwa ia tetap cantik dan tidak melihat lagi kerut-kerut di mukanya. Ia semakin tertarik pada perempuan tua. Walaupun perempuan tua menceritakan semua ketuaannya, tetapi penyair tidak memperdulikan hal itu. Ia tetap melanjutkan keinginanya untuk mencintai perempuan tua tersebut karena sudah dipengaruhi dan dikuasai dengan kemabukannya sendiri.
 Perempuan tua selalu mencari jalan lain dan menghalangi agar penyair tidak berkata bahwa Komachi sangat cantik. Ia melakukan hal itu karena tidak menginginkan kalau penyair akan meninggal dunia juga seperti laki-laki lain yang sudah mengatakan cinta dan memuja kecantikannya. Penyair tetap berusaha hingga ia kesampean dan berbicara bahwa Komachi merupakan perempuan yang paling cantik di dunia. Setelah mengatakan hal itu kedua tangan dan kaki penyair menjadi dingin hingga ia jatuh ke tanah dan meninggal. Perempuan tua tetap duduk termangu di atas bangku dan memandang nanap ke depan. Sesudah itu dia mulai lagi memilih-milih puntung rokoknya bagaikan orang bodoh karena ia selalu memikirkan tentang apa yang sudah terjadi.
 Agen polisipun mulai muncul dan menanyakan pada perempuan tua tersebut bahwa sejak kapan penyair yang sudah mabuk terjatuh hingga akhirnya meninggal. Akhirnya perempuan tua menjawab bahwa sebelum penyair tersebut meninggal, ia sempat mengganggu dirinya. Agen polisi tidak percaya dengan hal itu, karena menurut mereka tidak mungkin seorang perempuan tua yang sudah keriput akan diganggu. Mereka tetap beranggapan bahwa perempuan tua telah melucu belaka. Merekapun telah memperingatkan agar para kuli tidak tidur di taman tersebut karena tempat itu bukan tempat mereka sesungguhnya. Perempua tua tetap melanjutkan kegiatannya dengan menghitung beberapa puntung rokok.

4.      Drama “Mangir” karya Pramudya Ananta Toer.

Drama ini mengangkat persoalan mengenai masalah dari sebuah kerajaan yang membahas masalah peperangan. Tokoh-tokohnya adalah Wanabaya (Ki Ageng Mangir) pemuda 23 tahun yang tampan, tinggi, perkasa, dan sebagai prajurit, pendekar, panglima perang, tua pardikan Mangir. Pembayun (putrid Adisaroh) 16 tahun, Suriwang 50 tahun, Kimong 30 tahun, Tumenggung Mandaraka 92 tahun, Ki Ageng Pamanahan 90 tahun, Pangeran Purbaya 20 tahun, Tumenggung Jagaraga 35 tahun, Panembahan Senapati 45 tahun, dan Demang Pajang 42 tahun.
Dalam drama ini menceritakan seorang panglima perang / tua pardikan yang bernama Wanabaya atau Ki ageng Mangir yang mencintai putri Pembayun (Adisaroh). Hubungan keduanya telah ditolak mentah-mentah dari pihak kerajaan Mangir. Penolakan ini dikarenakan putrid Adisaroh berasal dari kerajaan Mataram, sedangkan Wanabaya berasal dari kerajaan Mangir. Pihak-pihak dari kerajaan Mangir seperti Baru Klinting dan yang lainnya selalu memperebutkan Adisaroh. Demang Patalanpun  tidak rela kalau putrid Adisaroh jatuh di tangan Wanabayan. Kerajaan Mangir maupun kerajaan mataram sedang tidak rukun. Maka dari itu kerajaan Mangir mengirim / mengutus Ki Ageng Mangir (Wanabaya) menentang kerajaan Mataram. Kerajaan Mangir selalu mencari siasat dengan mengundang pihak-pihak dari kerajaan Mataram untuk merundingkan suatu peperangan termasuk putrid Adisaroh yang dating bersama rombongan dari kerajaan Mataram. Putrid Adisaroh dating bersama Ki Ageng Mangir.
 Setelah sampai di Mangir putri Adisaroh selalu bergandengan tangan dengan Wanabayan. Mereka tidak mau dipisahkan. Pihak mangir seperti para tetua selalu menjelek-jelekkan Adisaroh. Mereka juga memarahi Wanabayan karena hatinya telah terbelah dua sejak mengenal putrid Adisaroh. Wanabayan telah diberi kepercayaan sebagai panglima perang atau tua pandikan. Putrid Adisaroh merupakan putrid Tumenggung Mandarakan yang dikenal sebagai penari tanpa tandingan. Setelah orang-orang Mangir mengetahui hubungan Adisaroh bersama Ki Ageng Mangir, mereka langsung mengarahkan 7 mata tombak pada Wanabayan, karena telah menghianati kepercayaan raja setelah diutus menjadi panglima Mangir dengan menjalin hubungan bersama putri dari Mataram. Wanabayanpun mengakui kesalahannya dan meminta ampun untuk direstui hubungannya.

5.      Drama “Ningrat” karya Laode Sadia (drama Lokal).

Drama ini membahas persoalan tentang perbedaan sosial yang berasal dari keturunan yang berbeda dan masih mengutamakan gelar ningratnya. Tokoh-tokoh dalam drama ini adalah La Ege, Wd. Abe, Bapak, Kakek, Ani, dan Orang tua. Drama ini dimulai dengan La Ege yang menunggu dan enanti kedatangan Wd. Abe. Mereka sama-sama saling mencintai, tetapi hubungan keduanya ditolak dengan orang tua laki-laki Wd.. Abe. Alasannya dikarenakan perbedan keturunan yang sama-sama tidak sepadan dan masih mementingkan ningratnya. Awalnya La Ege merupakan turunan dari kalangan rendahan. Ia mencintai setulus hati Wd. Abe meskipun mengetahui bahwa Wd. Abe merupakan keturunan ningrat. Ia tetap mempertahankan keutuhan cintanya walaupun Wd. Abe sudah dijodohkan. Wd. Abe tergolong perempuan cantik. Ia tidak memperdulikan status La Ege. Untuk mempertahankan cintanya, ia rela membatalkan perjodohannya denga laki-laki lain. Ia rela dibuang dari keluarganya, yang penting tujuannya untuk menyelamatkan cinta sejati. Sangayah menentang hubungan tersebut karena tidak menginginkan anaknya untuk dipersunting dengan laki-laki yang berasal dari kelas rendahan. Iapun tidak memikirkan kehidupan anaknya yang nantinya akan merusak batin putrinya sendiri. Ia selalu mencari siasat lain untuk memisahkan keduanya. Meskipun sikakak dan sangayah  sama-sama tidak setuju, tetapi masih ada orang-orang yaitu Kakek dan Ani yang menyelamatkan cinta mereka. Kakek selalu menasehati La Ege untuk sabar dengan menerima hal tersebut dan tetap berusaha dalam menggapai cintanya. Anipun selalu menjadi teman yang baik untuk La Ege dan Wd. Abe.
Keluarga Wd. Abe tetap mempertahankan ningratnya. Untuk itu mereka rela Wd. Abe menikah asalkan berasal dari keturunan yang sama. Peraturan ini sudah ditetapkan dalam keluarga Wd. Abe. Tetapi dengan aturan yang sudah ditetapka tersebut Wd. Abe berani melanggar karena menurutnya perbedaan status bukan merupakan satu-satunya penghalang untuk menjalankan kisah cinta siapapun termasuk pada dirinya sendiri. Dimatanya perbedaan yang tetap mempertahankan gelar ningrat sudah tidak berlaku lagi. Karena itu ia berusaha untuk meratakan gelar keturunannya dengan memilih kawin lari bersama La Ege.







 




  



  

»»  READMORE...

ANALISIS DRAMA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
    Karya sastra merupakan karya yang dapat memesrai kehidupan. Bagi seorang sastrawan, karya sastra tidak hanya mengekspresikan pengalaman jiwanya saja, melainkan juga mempengaruhi pembaca agar dapat memahami dan menghayati ide yang dituangkannya dalam karya sastra. Karya sastra dapat menimbulkan citra tertentu di dalam benak penikmatnya sebab dapat menimbulkan perasaan senang, sedih, dendam dan sebagainya. Perasaan tersebut akan muncul karena adanya pengaruh dari tekhnik bunyi bahasa, pilihan kata, susunan kalimat, penampilan tokoh cerita maupun tekhnik penceritanya.
    Karya sastra itu lahir dalam kekosongan budaya. Karya sastra merupakan respons terhadap karya sastra sebelumnya. Oleh karena itu, sebuah karya sastra tidak dapat dilepaskan dari rangkaian-rangkaian sejarahnya. Selain itu, karya sastra juga merupakan struktur yang unsur-unsurnya saling berhubungan dengan erat dan tiap unsur itu hanya mempunyai makna dalam kaitannya atau hubungannya dengan unsur lainnya dan keseluruhannya.
    Drama adalah perbuatan, tindakan. Drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, dan sebagainya. Drama adalah kehidupan yang dilukiskan dengan gerak. Konflik dan sifat manusia merupakan sumber pokok dalam drama. Dalam bahasa Belanda, drama adalah tonnel yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah sandiwara.
    Drama dapat memiliki nilai seni kehidupan yang dilukisksan oleh tokoh-tokohnya  yang dapat dipentaskan di atas panggung. Karena itu melalui pendekatan structural (objektif) drama yang berjudul “Tanah Yang Hilang” yang merupakan karya Ryfton Suba akan dianalisis agar dipahami para pembacanya tentang makan atau inti cerita yang terkandung di dalamnya.

1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan uraian singkat yang tertuang pada latar belakang, maka masalah pokok yang dibahas dalam makalah ini adalah bagaiman menganalisis drama “Tanah Yang Hilang” karya Rifton Suba dengan menggunakan tatanan analisis pendekatan Struktural/Objektif.

1.3 Tujuan
    Adapun tujuan dari bentuk analisis ini adalah untuk menganalisa atau mengungkap isi cerita yang disampaikan oleh pelaku-pelakunya yang merupakan karya Rifton Suba dengan pendekatan structural (Objektif). Selain itu, analisis ini juga bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat awam dalam memahami atau memaknai kehidupan yang sebenarnya. Adapun tujuan lain dalam penulisan makalah ini secara khusus adalah untuk memenuhi salah satu tugas dari Pembina mata kuliah kajian Drama, yang merupakan bagian dari tugas awal/pertama kali.

1.4 Manfaat
    Secara umum, manfaat analisis ini adalah untuk mempermudah masyarakat atau setiap pembaca dalam mengetahui bahkan memahami setiap isi atau makna melalui beberapa adegan yang tersirat/terselubung di dalamnya. Khususnya pada drama yang berjudul “Tanah Yang hilang” karya Rifton Suba. Di samping itu, manfaat lain adalah dapat melatih kemampuan mahasiswa dalam menganalisis/mengkaji sebuah drama, bahkan mengetahui beberapa penjabaran dalam pendekatan Struktural (Objektif).



BAB II
KAJIAN TEORI

    Drama adalah suatu aksi atau perbuatan. Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalam suatu tingkah laku, mimik, dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran.
Orang yang memainkan sebuah drama disebut aktor atau lakon.
    Drama menurut masanya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
1.    Drama baru/drama modern adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2.    Drama lama/drama klasik adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan sebagainya.
Secara etimologis teater adalah gedung pertunjukkan atau auditorium. Dalam arti luas teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di hadapan orang banyak. Dalam arti sempit teater adalah drama kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media: percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, music, nyanyian, tarian dan sebagainya.
Macam-macam drama berdasarkan isi kandungan cerita:
    Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
    Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
    Drama tragedi komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
    Tablau adalah drama yang mirip pantonim yang dibarengi oleh gerak gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
Dari definisi mengenai drama, maka dalam mengkaji drama yang berjudul “Tanah Yang Hilang” dapat digunakan suatu pendekatan struktural (Objektif). Pendekatan Objektif merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada karya itu sendiri. Menurut Teeuw (1988:131), khususnya dalam ilmu sastra struktural berkembang melalui tradisi formalis. Artinya hasil-hasil yang dicapai melalui tradisi formalis sebagian besar dilanjutkan dalam strukturalis.
Secara definitif struktural berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri dengan mekanisme antar hubungan, di satu pihak antar hubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya. Di pihak lain, hubungan antara unsur denag totalitasnya. Hubungan tersebut tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian dengan kesepahaman, tetapi juga negatif seperti konflik dan pertentangan. Struktural dapat memberikan perhatian terhadap analisis unsur-unsur karya. Setiap karya sastra, baik karya sastra dengan jenis yang sama maupun berbeda, memiliki unsur-unsur yang berbeda. Di samping sebagai akibat ciri-ciri inheren tersebut, perbedaan unsur juga terjadi sebagai akibat perbedaan proses resepsi pembaca.
Pendekatan Objektif merupakan pendekatan yang terpenting sebab pendekatan apapun yang dilakukan pada dasarnya bertumpu atas karya sastra itu sendiri. Secara historis pendekatan ini dapat ditelusiri pada zaman Aristoteles dengan pertimbangan bahwa sebuah tragedy terdiri atas  unsur-unsur kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan. Organisasi atas unsur keempat itulah yang kemudian membangun struktur cerita yang disebut plot.
Pendekatan Objektif (Struktural) menempatkan karya sastra atau peristiwa dalam masyarakat sebagai suatu keseluruhan karena adanya reaksi timbale-balik antara bagian-bagiannya dan antara bagian dari keseluruhan. Pendekatan objektif memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Pendekatan struktural (Objektif) melakukan penelaahan sastra dari segi intrinsik yang membangun karya sastra, yaitu tema, latar, alur, penokohan, gaya bahasa, dan sebagainya. Selain itu juga, terdapat pula pada unsur-unsur ekstrinsik yaitu kemanusiaan, kebudayaan dan sebagainya.


BAB III
PEMBAHASAN

    Pendekatan Objektif (Struktural) merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada karya itu sendiri. Oleh karena itu, bagi pembaca tidak akan mudah memahami maksud/isi cerita yang terdapat pada setiap adegan. Misalnya saja pada drama yang berjudul “Tanah Yang Hilang” memiliki beberapa adegan yang terlalu rumit untuk dilakoni oleh pelaku-pelakunya. Untuk itu, saya mencoba melakukan penganalisisan/pengkajian yang lebih mendalam untuk memahami isi cerita dengan menggunakan pendekatan objektif. Dengan memakai pendekatan objektif (Struktural), maka drama yang berjudul “Tanah Yang Hilang” ditinjau dari unsur intrisiknya memiliki tema tersendiri yaitu barang berharga yang lenyap begitu saja. Maksudnya adalah kekayaan satu-satunya yang dimiliki oleh si pelaku utama dirampas dan direbut secara paksa oleh seorang pengusaha. Ia tidak bisa mempertahankan kepemilikannya tersebut secara utuh karena dilandasi oleh keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan. Padahal dengan kepemilikan terhadap barang tersebut merupakan satu-satunya titik tumpuan untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan sehari-hari.
    Jika ditinjau dari segi latar bahwa dalam setiap adegannya drama tersebut latar tempatnya terjadi di sebuah rumah yaitu di ruang tamu. Hal ini telah terbukti bahwa semua jalan peristiwa dalam setiap adegan selalu terjadi di ruang tamu. Seperti si pelaku utama yang duduk di kursi ruang tamu dengan tegang dan penuh kegelisahan dalam memikirkan biaya untuk mengolah sawah. Selain itu juga, ketika dia mengetahui bahwa sawahnya akan diambil oleh orang lain. Begitupun ketika ia masih duduk di ruang tamu seorang pengusaha bersama kepala desa dating menanyakan kejelasan terhadap kepemilikan tersebut. Serta latarnya terlihat pada adegan terakhir bahwa yang mana sang istri di ruang tamu pun ia merapikan baju suaminya sebelum si pelaku utama tersebut mengembalikan uang yang sudah ditukar dengan tanah kepemilikannya. Selain itu latar waktu terjadi ketika peristiwa mulai memuncak ketika si pelaku utama mulai mendengar berita bahwa tanahnya yang sudah dijadikan sawah akan dibangunkan tempat penginapanberupa vila oleh pengusaha dari kota. Serta yang terakhir bahwa drama tersebut telah didukung oleh latar suasana yang selalu menegangkan dan dibarengi dengan suasana yang penuh dendam. Hal ini tergambar bahwa semua warga yang mendukung si pelaku utama memiliki rasa dendam terhadap pengusaha karena niat untuk memiliki tanah tersebut didasari unsur paksaan.
    Dari segi tokoh/pelaku bahwa tokoh utama memiliki hati yang bijaksana dan penuh tanggung jawab dalam mempertahankan apa yang dimilikinya. Ia pun selalu sabar dalam menghadapi suatu masalah. Ia selalu menasehati warganya agar tidak mengambil keputusan sebelum dipertimbangkan kebenarannya dengan baik. Si pelaku utamapun selalu baik pada istrinya. Ia selalu menghidupi keluarganya walaupun secara pas-pasan. Meskipun kepunyaan satu-satunya ingin diincar oleh orang lain, tetapi dia berusaha untuk merebutnya kembali.
    Ditinjau dari segi alur, pada drama yang berjudul “Tanah Yang Hilang” mengalami alur maju karena terbukti dari awal cerita si pelaku utama mulai dihadapkan dengan masalah bahwa tanahnya akan dibangunkan sebuah penginapan. Ketika mengatahui hal itu ia tidak menyetujuinya karena tanah tersebut merupakan titik tumpuan untuk menghidupi seluruh anggota keluarganya. Ia pun berusaha untuk mempertahankannya dengan dibantu seluruh warga yang merupakan teman-teman karibnya. Tetapi dengan kondisi keluarga yang pas-pasan sang istri dengan nekat memberikan tanahnya kepada salah seorang pengusaha karena ia pun tidak menginginkan suaminya hidup dengan banyak masalah apalagi sampai masuk penjara. Untuk merebutnya kembali, ia tidak bisa melakukan apa-apa karena sudah ada perjanjian antara kedua belah pihak walaupun hanya istrinya yang setuju.
    Penggunaan diksi yang dipakai dalam drama merupakan diksi atau pilihan kata yang betul-betul dapat dimengerti oleh pembaca atau pendengarnya. Pemilihan kata tidak terlalu umum sehingga pendengar menikmati isi jalan cerita dalam setiap adegan. Pemakaian kata-katanya pun seolah-olah merupakan bahasa yang dapat digunakan dalam sehari-hari, sehingga tidak mengalami kesulitan walaupun hanya dilihat dengan sekilas.
    Amanat yang bisa dipetik dalam drama yang berjudul “Tanah Yang Hilang” adalah sebagai umat manusia yang selalu menghargai orang lain, kita tidak boleh memaksakan kehendak kita apalagi merebutnya dengan dengan secara paksa. Kita tidak harus memaksakan rasa keegoisan kita apalagi berunjuk rasa dengan cara kekerasan. Semua masalah bisa diselesaikan dengan baik dan tangan terbuka serta rasa saling menghargai atau memelihara satu sama lain.
    Jika dilihat dari unsur ekstrinsik, drama yang berjudul “Tanah Yang Hilang” penganalisisannya hanya dilihat dari segi pendidikannya saja. Yang man si pelaku utama (Ayah) memiliki latar belakang pendidikan yang kurang apalagi ia hidup dalam suatu perkampungan. Pemerolehan pendidikan bersama warga lain sangat kurang misalnya saja tentang penggarapan hasil tani yang baik, mereka tidak begitu tahu. Mereka hanya tahu dengan cara tradisional. Sehingga dengan kelemahan tersebutlah ia bisa diperalat oleh orang lain. Padahal, jika memiliki pendidikan yang luas ia bisa mengelola/mengolahnya sendiri tanpa direbut oleh pengusaha-pengusaha yang handal. 


 
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

    Dari analisis drama yang berjudul “Tanah yang Hilang” karya Rifton Suba dalam bingkai pendekatan Struktural (Objektif) dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pendekatan Objektif merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada karya itu sendiri seperti unsur-unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Dari unsur-unsur inilah dapat membangun drama tersebut seperti drama “Tanah Yang Hilang”. Maksudnya adalah bahwa tanah yang dimiliki sejak dilahirkan telah dirampas oleh tangan-tangan si jail yang tidak mementingkan kehidupan di kelas bawahan. Mereka dengan seenaknya merebut kepemilikan tersebut yang hanya mengandalkan kecerdasan ilmu dan kedudukan dalam suatu jabatan. Bagi korban-korbannya hanya pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa karena diakibatkan oleh pemerolehan pendidikan yang kurang dan terbatas.

4.1 Saran
     Di dalam penyusunan makalah yang berupa analisis ini, tentunya terdapat kekurangan-kekurangan di dalamnya. Untuk itu saya sarankan agar dosen pembimbing mata kuliah ini tidak berhenti membimbing kami serta selalu bersedia apabila ada hal yang tidak kami mengerti khususnya yang berkaitan dengan bentuk-bentuk pada analisis drama. Tentunya dengan hal tersebut akan lebih menyempurnakan atau memperbaiki kekurangan dalam analisis berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA


Organisasi.org/arti-definisi-pengertian drama
 tmimpi.wibisono.us/node/94
Kutha Ratna, S.U, Nyoman Prof. Dr. 2004. Teori, Metode, danTekhnik PenelitianI
    Sastra. Denpasar : Pustaka Belajar.
LA NIAMPE, M. Hum, DR. 2008. Teori Sastra. Kendari : Universitas Haluoleo.














»»  READMORE...